Bangil, Mediapasuruan.com — Ancaman terhadap nilai-nilai kebangsaan tak lagi bersifat kasat mata. Ia hadir dalam bentuk apatisme, disorientasi ideologi, dan pergeseran moral di tengah masyarakat. Menyikapi hal ini, kegiatan Penguatan Jaringan Relawan Kebijakan Pancasila kepada Kelompok Masyarakat Tahun 2025 digelar pada Minggu, 20 Juli 2025 di Gedung Anisah Foundation, Kabupaten Pasuruan.
Acara tersebut merupakan hasil dari pada sinergitas antara DPR RI dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), kegiatan ini menegaskan bahwa perjuangan ideologis tak hanya milik negara atau institusi formal, tetapi merupakan tanggung jawab kolektif warga bangsa terutama para relawan Pancasila yang menjadi garda terdepan dalam menjaga fondasi kebangsaan di tingkat akar rumput.
H. Sa’ad Muafi, S.H, anggota DPRD Kabupaten Pasuruan yang hadir sebagai narasumber, menegaskan bahwa kondisi sosial hari ini menuntut gerakan ideologis yang lebih terstruktur, sistematis, dan militan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kita tak bisa lagi bersikap netral terhadap ancaman ideologi. Relawan Pancasila harus jadi pelindung bangsa dari disorientasi, pembusukan nilai, dan infiltrasi ideologi asing yang melemahkan kesatuan kita,” ujar Sa’ad Muafi di hadapan peserta.
Ia menyoroti lemahnya pemahaman ideologi negara di kalangan generasi muda dan menyatakan bahwa pendidikan Pancasila tidak cukup jika berhenti di kurikulum. Relawan, menurutnya, harus hadir sebagai pelaku utama penguatan karakter kebangsaan di lingkungan masing-masing.
“Kalau kita biarkan masyarakat hanya kenal Pancasila lewat upacara dan hafalan, maka kita sedang menciptakan generasi yang rapuh. Relawan inilah yang harus menjemput bola, mendatangi kampung, sekolah, dan komunitas,” tegasnya.
H. Sa’ad Muafi, S.H juga mengajak pemerintah daerah untuk tidak sekadar mendukung di tataran formalitas, tetapi terlibat aktif dalam membangun jejaring ideologis yang berkesinambungan.
“Pemerintah daerah jangan jadi penonton. Kita harus fasilitasi pelatihan, gerakan akar rumput, dan program konkret. Jangan tunggu sampai konflik ideologis meledak di depan mata,” katanya.
Acara ini dihadiri ratusan peserta dari berbagai latar belakang: tokoh agama, pemuda, guru, aktivis perempuan, dan tokoh masyarakat. Suasana berlangsung dinamis dengan diskusi tajam dan dialog terbuka mengenai tantangan dan strategi menjaga ideologi Pancasila di tengah derasnya arus globalisasi dan perpecahan sosial.
Salah satu peserta, M. Arif seorang guru madrasah, menyampaikan kegelisahannya atas minimnya pemahaman ideologi di kalangan pelajar.
“Saya melihat anak-anak sekarang jauh dari semangat kebangsaan. Banyak yang lebih hafal tokoh-tokoh luar ketimbang pahlawan kita sendiri. Kegiatan ini menyadarkan saya: kita tidak boleh diam,” ucap Arif.
Ia berkomitmen untuk membawa semangat relawan Pancasila ke madrasah dan komunitasnya.
“Saya akan mulai dari lingkungan saya. Menghidupkan kembali diskusi Pancasila, mengajarkan nilai-nilai dasar kebangsaan dengan pendekatan yang membumi dan kontekstual,” tambahnya.






