Generasi Milenial Wajib Tau, Ternyata Candi Gununggangsir Dibuat Pada Zaman Raja Airlangga - Media Pasuruan

Generasi Milenial Wajib Tau, Ternyata Candi Gununggangsir Dibuat Pada Zaman Raja Airlangga

- Redaksi

Senin, 15 Mei 2023 - 12:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Candi Gununggangsir yang terletak di Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur (Sumber: wikipedia.org)

Foto : Candi Gununggangsir yang terletak di Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur (Sumber: wikipedia.org)

Mediapasuruan.com – Candi yang terletak di Dukuh Kebon Candi, Desa Gunung Gangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur ini merupakan peninggalan sejarah yang dibuat pada zaman kejayaan Raja Airlangga.

Dilansir dari berbagai sumber, Candi ini dibangun sebagai persembahan untuk janda murah hati. Menurut cerita yang ada, pada zaman pemerintahan Raja Airlangga, ada seorang wanita bernama Nyi Sri Gati yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai seorang janda dan biasa menjulukinya Mbok Randa Derma (janda murah hati).

Dulu, Mbok Randa Derma dikenal karena berjasa dengan membangun masyarakat pertanian di daerah tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada cerita legenda masyarakat setempat, dulunya penduduk di daerah tersebut belum mengenal kehidupan bercocok taman. Kehidupan mereka mengembara dan makanan utamanya merupakan tanaman jenis rerumputan.

Suatu saat, ketika persediaan tanaman rerumputan yang menjadi makanan pokok masyarakat mulai menipis. Saat itu datanglah seorang perempuan yang tak diketahui asalnya, bernama Nyi Sri Gati.

Perempuan itu mengajak para pengembara untuk berdoa, meminta petunjuk kepada Hyang Widi supaya bisa mengatasi kekurangan pangan yang mereka alami. Tak lama kemudian datang serombongan burung sebangsa burung gelatik dengan membawa padi-padian, lalu menjatuhkannya di dekat para pengembara. Padi yang jatuh itu kemudian ditanam oleh Nyi Sri Gati.

Beberapa bulan kemudian, tanaman Nyi Sri Gati dapat dipanen. Ia kemudian menumbuk hasil panennya menjadi beras, yang kemudian diolah menjadi nasi. Selanjutnya, Nyi Sri Gati mengajarkan cara bercocok tanam kepada para pengembara.

Sejak saat itu, masyarakat pengembara menetap dan hidup dari bercocok tanam. Mereka menjadikan padi sebagai makanan pokok.

Sedangkan menurut sumber yang lain, nama Candi Gununggangsir merupakan perpaduan dari dua suku kata, yakni nama ‘gunung’ diambil dari keberadaan bangunan candi ini pada masa lampau yang dilingkupi oleh gunung. Sedangkan kata gangsir (Jawa: nggangsir) berarti menggali lubang di bawah permukaan tanah.

Menurut keterangan penduduk, nama ini muncul ketika pada suatu saat ada seseorang yang berusaha ‘menggangsir’ gunung ini untuk mencuri benda-benda berharga di dalam bangunan candi ini. Maka dikenallah bangunan candi ini dengan nama Candi Gununggangsir.

Candi Gununggangsir merupakan candi yang unik. Karena satu-satunya candi yang menggabungkan gaya arsitektur Jawa Timuran dengan gaya ragam hias Jawa Tengahan. Dan candi ini merupakan satu-satunya candi yang menggunakan teknik cetak untuk menampilkan ragam hiasannya.

Pada 29 Februari 2016, candi ini ditetapkan sebagai warisan cagar budaya tingkat provinsi dengan surat penetapan bernomor 188/147/KPTS/013/2016. ***

Sumber Berita : Merdeka.com, wikipedia.org

Berita Terkait

Bluk Gebluk Khas Rembang Dipentaskan dalam Festival, Disbudpar Pasuruan Dorong Jadi Warisan Budaya
Purwosari Carnival 2025, Pesta Budaya Yang Jadi Magnet Wisata Sekaligus Wujud Nyata Dukung Asta Cita Ketahanan Pangan Presiden Prabowo
HUT Kumparaya Ke-4, Dinas Koperasi Siap Kolaborasi Angkat UMKM Pasuruan di Ajang Nasional
Sambut PORPROV ke-IX 2025 Di Malang Raya, Forum Malang Jurnalis Hadirkan Pasar Kangen Malang Djadoel 2
Tradisi Ogoh-Ogoh di Tosari: Wujud Harmoni Antarumat Beragama
Belanja Gratis Dari Bumdes Candi Berkah Jadi Solusi Ekonomi Warga Desa Candibinangun Sukorejo
Intelegensia Pelajar Sebagai Equilibrium Kemajuan Organisasi Berkelanjutan
Fenomena Bagi-Bagi Takjil di Indonesia: Tradisi Ramadhan yang Penuh Makna
Berita ini 79 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 22 April 2026 - 17:35 WIB

KIM Gempar Randupitu Raih Peringkat Dua, Bukti Kebangkitan Komunitas Informasi di Kabupaten Pasuruan

Jumat, 13 Februari 2026 - 12:58 WIB

Randupitu Sabet Penghargaan BNN Jatim dalam Program Akselerasi Asta Cita Jatim Bersinar 2026

Sabtu, 7 Februari 2026 - 05:54 WIB

Diserahkan Camat Gempol, Desa Randupitu Terima Piagam Lunas PBB 100 Persen

Selasa, 27 Januari 2026 - 18:28 WIB

Balai Dusun Direnovasi Lewat Kerja Bakti, Kasun Rodowo Arahkan Jadi Sentra Ekonomi Kreatif

Selasa, 1 Juli 2025 - 12:59 WIB

Inovasi Pangan Pemdes Randupitu Diapresiasi, Bawa Pulang Juara 2 P2B 2025

Jumat, 30 Mei 2025 - 09:53 WIB

Cegah HIV/AIDS, Desa Randupitu Libatkan RT-RW Dalam Edukasi Masyarakat

Kamis, 20 Maret 2025 - 11:48 WIB

Belanja Gratis Dari Bumdes Candi Berkah Jadi Solusi Ekonomi Warga Desa Candibinangun Sukorejo

Jumat, 21 Februari 2025 - 10:20 WIB

Cegah Demam Berdarah, Babinsa Wonorejo Bersama Warga Gelar Kerja Bhakti

Berita Terbaru