PURWOSARI, Mediapasuruan.com —Ribuan warga memadati sepanjang jalan utama Purwosari pada akhir pekan ini untuk menyaksikan Purwosari Carnival 2025. Hajatan rakyat yang rutin digelar setiap tahun itu kembali menghadirkan kemeriahan, sekaligus menjadi simbol nyata bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan agenda nasional, khususnya Asta Cita Presiden Prabowo mengenai Ketahanan Pangan.
Dengan menampilkan parade busana tradisional, seni pertunjukan, hingga bazar UMKM lokal yang menjajakan hasil olahan pangan dan produk kreatif, karnaval ini bukan hanya soal hiburan, melainkan juga wadah membumikan cita-cita besar bangsa.
Fahri, selaku Steering Committee acara Purwosari Carnival 2025, menegaskan bahwa acara ini dirancang untuk memberi ruang kepada seluruh elemen masyarakat sekaligus berkontribusi pada agenda besar pemerintahan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

“Purwosari Carnival tahun ini kami kemas bukan hanya untuk merayakan kekayaan budaya, tapi juga sebagai bentuk nyata dukungan pada Asta Cita Presiden Prabowo, terutama poin tentang ketahanan pangan. Karena di sini, kita menghadirkan panggung budaya sekaligus etalase pangan lokal, hasil bumi, dan olahan masyarakat Purwosari. Jadi, budaya dan pangan berjalan seiring, saling menguatkan,” ujar Fahri.
Ia menekankan, semangat karnaval ini adalah kebangkitan bersama. Budaya lokal dijaga dan dikembangkan melalui kreativitas anak muda, sementara produk pertanian dan UMKM pangan diberi ruang untuk tampil dan dikenal masyarakat luas. Menurutnya, sinergi ini mencerminkan bagaimana desa-desa bisa menjadi benteng ketahanan pangan sekaligus pusat pelestarian budaya.
“Ketahanan pangan bukan hanya soal ketersediaan beras atau jagung. Lebih dari itu, ini soal kemandirian desa, soal keberanian masyarakat memanfaatkan potensi lokal. Purwosari Carnival kami jadikan momentum agar pangan lokal bisa naik kelas, menjadi kebanggaan sekaligus penopang ekonomi rakyat. Dengan begitu, semangat Asta Cita Presiden benar-benar bisa kami jalankan dari bawah, dari desa,” lanjut Fahri.
Bagi Fahri, inilah bukti bahwa pelestarian budaya dan penguatan ketahanan pangan bisa disatukan dalam satu panggung yang sama. “Kami ingin menunjukkan bahwa budaya bukan barang museum, melainkan sumber inspirasi hidup sehari-hari. Sama halnya dengan pangan lokal, yang bukan hanya untuk dimakan, tapi juga bagian dari jati diri kita. Kalau dua hal ini kita rawat bersama, insyaAllah bangsa ini akan lebih kuat dan mandiri,” tegasnya.






